Sudah berapa kali sebenarnya saya menyakiti hati orang? Satu, dua, tiga? Atau berpuluh-puluh. Selama ini saya memang tidak pernah menghitung. Lain ceritanya kalau seseorang bertanya pada saya : "Berapa kali kamu disakiti?" Saya sudah pasti bisa menjabarkannya dgn rinci tanpa perlu ditanya dua kali.
Jadi saya akan mulai berusaha dengan tekun setiap hari, mulai hari ini : Jumat, 8 Oktober 2010, saya akan mulai berefleksi. Paling tidak hari ini saya akan menuliskan refleksi saya di sini.
Tampilkan postingan dengan label Jurnal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jurnal. Tampilkan semua postingan
Me about love
Bisa saja cinta menipu semuanya. Bukan cuma saya, atau kamu. Dunia. Kadang ada beberapa hal buruk yang dilakukan atas keagungan nama cinta. Bukannya itu dosa, ya. Hanya beberapa. Cinta memang suci, tapi bukan dewa. Bukan sesuatu yang lantas harus disembah-sembah untuk mendapatkan kebahagian P-R-I-B-A-D-I.
Pernah ada sebuah kutipan
Kadang kita berkata demi kebaikan bersama. Seorang Ibu membunuh anaknya sebelum bunuh diri karena ia peduli. Karena ia khawatir tentang masa depan anaknya. Seorang cowok mengekang penuh ceweknya karena ia peduli. Kadang ada alasan lain dibalik kata 'Kepentingan Bersama.' Menyewa nama cinta dan kepentingan bersama untuk mendewakan kehendak pribadi. Ada beberapa. Tidak semua.
Pernah ada sebuah kutipan
"Satu kata yang paling tidak penting; AKU."
Kadang kita berkata demi kebaikan bersama. Seorang Ibu membunuh anaknya sebelum bunuh diri karena ia peduli. Karena ia khawatir tentang masa depan anaknya. Seorang cowok mengekang penuh ceweknya karena ia peduli. Kadang ada alasan lain dibalik kata 'Kepentingan Bersama.' Menyewa nama cinta dan kepentingan bersama untuk mendewakan kehendak pribadi. Ada beberapa. Tidak semua.
Liburan Lebaran
Holiday's coming!!!!!
Libur libur dan libur! Setelah sepertinya berjuta-juta tahun berlalu.........here we come! Libur Lebaran! Haha emang sih aku adalah salah satu dari segelintir orang yg nggak ikut merayakan Lebaran tapi tetep aja, lahir di Indonesia bikin aku tetep ngerasain hebohnya euforia Hari Raya Lebaran :3 dan karena emang sebagian besar keluarga dari Papa adalah Muslim, aku nggak asing sama yang namanya kumpul-kumpul pas Lebaran, halal bihalal ke rumah-rumah kerabat deket, atau rame-rame makan opor+ketupat. Rasanya seru haha!
Trus apa lagi ya...hm ttg liburannya! Aku seneng libur Lebaran karena kayaknya emang cuma pas itu aja semua anggota bisa ngumpul komplit di rumah. Rasanya aneh emang liat Papa di rumah siang-siang karena emang jaraaaaaang banget ada momen kayak gitu di rumah :) dan aku berusaha mensyukuri ini semua. Pas kita sekeluarga bisa ngumpul bareng-bareng, kadang rencanain liburan kecil-kecilan ke Solo atau ke kota-kota deket lain. Rasanya aku bisa sangat amat antusias beresin semua barang ke mobil, nyiapin semua makanan yang bakal kita bawa buat bekal. That's what I called family :)
Lebaran kayaknya emang momen yang bisa mengakrabkan keluarga dengan caranya sendiri-sendiri. Bahkan buat keluargaku yang sebenernya nggak ikut rayain hari raya ini. Dan aku juga yakin beribu-ribu keluarga di Indonesia juga ngumpul bareng di hari Lebaran. :)
Dan kalo emang, masih ada keluarga-keluarga yang nggak bisa berkumpul di momen yang dianggap suci bagi penganut agama Muslim ini, aku yakin di hari itu mereka tetep mikir tentang keluarga mereka. Tentang cerita-cerita yang pengen mereka bagi antar anggota keluarga. Meski mungkin emang belum ada kesempatan buat mereka buat ngumpul dan ketemu satu sama lain.
Dan buat berjuta-juta umat Muslim di dunia ini, aku pengen ngucapin
Selamat Hari Raya Lebaran :)
Semoga Lebaran kali ini bisa membawa berkah bagi kita semua dan sekaligus bisa menjadi saat yg paling tepat untuk men-introspeksi semua kesalahan-kesalahan kita selama setahun ini.
Bukan seneng-senengnya yang seharusnya kita tunggu di hari lebaran ini, lebih ke apa kita di kesempatan kali ini kita bisa memetik hikmah dari Hari Raya Lebaran dan dapat semakin membenahi diri.
Jogjakarta, 5 September 2010
Chrysanta Aurelia
Libur libur dan libur! Setelah sepertinya berjuta-juta tahun berlalu.........here we come! Libur Lebaran! Haha emang sih aku adalah salah satu dari segelintir orang yg nggak ikut merayakan Lebaran tapi tetep aja, lahir di Indonesia bikin aku tetep ngerasain hebohnya euforia Hari Raya Lebaran :3 dan karena emang sebagian besar keluarga dari Papa adalah Muslim, aku nggak asing sama yang namanya kumpul-kumpul pas Lebaran, halal bihalal ke rumah-rumah kerabat deket, atau rame-rame makan opor+ketupat. Rasanya seru haha!
Trus apa lagi ya...hm ttg liburannya! Aku seneng libur Lebaran karena kayaknya emang cuma pas itu aja semua anggota bisa ngumpul komplit di rumah. Rasanya aneh emang liat Papa di rumah siang-siang karena emang jaraaaaaang banget ada momen kayak gitu di rumah :) dan aku berusaha mensyukuri ini semua. Pas kita sekeluarga bisa ngumpul bareng-bareng, kadang rencanain liburan kecil-kecilan ke Solo atau ke kota-kota deket lain. Rasanya aku bisa sangat amat antusias beresin semua barang ke mobil, nyiapin semua makanan yang bakal kita bawa buat bekal. That's what I called family :)
Lebaran kayaknya emang momen yang bisa mengakrabkan keluarga dengan caranya sendiri-sendiri. Bahkan buat keluargaku yang sebenernya nggak ikut rayain hari raya ini. Dan aku juga yakin beribu-ribu keluarga di Indonesia juga ngumpul bareng di hari Lebaran. :)
Dan kalo emang, masih ada keluarga-keluarga yang nggak bisa berkumpul di momen yang dianggap suci bagi penganut agama Muslim ini, aku yakin di hari itu mereka tetep mikir tentang keluarga mereka. Tentang cerita-cerita yang pengen mereka bagi antar anggota keluarga. Meski mungkin emang belum ada kesempatan buat mereka buat ngumpul dan ketemu satu sama lain.
Dan buat berjuta-juta umat Muslim di dunia ini, aku pengen ngucapin
Selamat Hari Raya Lebaran :)
Semoga Lebaran kali ini bisa membawa berkah bagi kita semua dan sekaligus bisa menjadi saat yg paling tepat untuk men-introspeksi semua kesalahan-kesalahan kita selama setahun ini.
Bukan seneng-senengnya yang seharusnya kita tunggu di hari lebaran ini, lebih ke apa kita di kesempatan kali ini kita bisa memetik hikmah dari Hari Raya Lebaran dan dapat semakin membenahi diri.
Jogjakarta, 5 September 2010
Chrysanta Aurelia
I'm Gonna Ask You, cantik :)
1. Apakah menurut Anda salah, jika seseorang merasa bahwa status-status facebook Anda yang berisi kata-kata kasar memang ditujukan untuk dirinya? Karena Anda bahkan tidak terlalu berani untuk langsung menulis namanya dan menyelesaikannya tanpa kata-kata kotor.
2. Apakah menurut Anda salah, jika seseorang meminta maaf dengan baik-baik untuk kesalahan yang tidak ia lakukan? Karena toh Anda terlebih dahulu menyebut orang itu dengan berbagai jenis makian yang tak pantas disebutkan.
3. Apakah menurut Anda salah, jika seseorang mengutarakan opininya tentang Anda? Karena ternyata setelah itu Anda sendirilah yang memaki-maki orang itu lagi-lagi dengan kata-kata yang tidak layak.
4. Apakah menurut Anda salah, apabila ada seseorang yang mempunya pendapat yang berlawanan dengan Anda? Karena toh kemudian Anda memaki-maki dia dengan sejuta makian
5. Apakah menurut Anda salah, jika seseorang menuliskan status Facebooknya tentang cinta yang Anda anggap alay? Bukan apa-apa, saya lebih senang mengkonsumsi tulisan orang-orang yang sedang jatuh cinta di halaman Facebook saya daripada melihat makian-makian Anda.
6. Apakah menurut Anda salah, apabila seseorang menyukai status Facebooknya sendiri? Toh itu bukan status Anda mengapa Anda sendiri yang heboh?
7. Apakah menurut Anda salah, apabila seseorang masih merindukan mantan pacarnya? Bukankah Anda sendiri juga suka mempost tweet menye-menye tentang mantan pacar?
8. Apakah menurut Anda salah, jika seseorang memilih menjadi alay? Dan jika Anda memang terganggu, mengapa Anda dulu mau berteman dengannya di Facebook?
9. Apakah menurut Anda salah, apabila ada orang yang tanpa sengaja meng-unfollow twitter Anda? Bukankah Anda juga pernah tanpa sengaja melakukan suatu kesalahan?
10. Apakah menurut Anda salah jika seseorang meng-unfollow Anda? Bukankah itu hak mereka? Bukankah Anda sendiri yang dulu pernah berkata: terserah mau ngapain, ini twitter gw.
Saya rasa saya salah pernah berkali-kali menghujat balik Anda. Saya rasa saya akhirnya bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk menulis sesuatu tentang Anda. Saya lelah dengan berjuta makian yang Anda tebarkan di jejaring sosial. Saya lelah melihat teman saya dihujat oleh orang yang mengaku beragama. Saya lelah menemukan diri saya sendiri Anda sebut sebagai orang yang tidak bersusila, yang pantas disejajarkan dengan Pekerja Seks Komersial. Saya lelah menemukan saya masih terpesona dengan tulisan inspiratif Anda dan kemudian menyadari lagi bahwa itu lagi-lagi hanyalah sebuah tulisan yang tidak mencerminkan hati.
19-Agustus-2010
Chrysanta Aurelia
2. Apakah menurut Anda salah, jika seseorang meminta maaf dengan baik-baik untuk kesalahan yang tidak ia lakukan? Karena toh Anda terlebih dahulu menyebut orang itu dengan berbagai jenis makian yang tak pantas disebutkan.
3. Apakah menurut Anda salah, jika seseorang mengutarakan opininya tentang Anda? Karena ternyata setelah itu Anda sendirilah yang memaki-maki orang itu lagi-lagi dengan kata-kata yang tidak layak.
4. Apakah menurut Anda salah, apabila ada seseorang yang mempunya pendapat yang berlawanan dengan Anda? Karena toh kemudian Anda memaki-maki dia dengan sejuta makian
5. Apakah menurut Anda salah, jika seseorang menuliskan status Facebooknya tentang cinta yang Anda anggap alay? Bukan apa-apa, saya lebih senang mengkonsumsi tulisan orang-orang yang sedang jatuh cinta di halaman Facebook saya daripada melihat makian-makian Anda.
6. Apakah menurut Anda salah, apabila seseorang menyukai status Facebooknya sendiri? Toh itu bukan status Anda mengapa Anda sendiri yang heboh?
7. Apakah menurut Anda salah, apabila seseorang masih merindukan mantan pacarnya? Bukankah Anda sendiri juga suka mempost tweet menye-menye tentang mantan pacar?
8. Apakah menurut Anda salah, jika seseorang memilih menjadi alay? Dan jika Anda memang terganggu, mengapa Anda dulu mau berteman dengannya di Facebook?
9. Apakah menurut Anda salah, apabila ada orang yang tanpa sengaja meng-unfollow twitter Anda? Bukankah Anda juga pernah tanpa sengaja melakukan suatu kesalahan?
10. Apakah menurut Anda salah jika seseorang meng-unfollow Anda? Bukankah itu hak mereka? Bukankah Anda sendiri yang dulu pernah berkata: terserah mau ngapain, ini twitter gw.
Saya rasa saya salah pernah berkali-kali menghujat balik Anda. Saya rasa saya akhirnya bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk menulis sesuatu tentang Anda. Saya lelah dengan berjuta makian yang Anda tebarkan di jejaring sosial. Saya lelah melihat teman saya dihujat oleh orang yang mengaku beragama. Saya lelah menemukan diri saya sendiri Anda sebut sebagai orang yang tidak bersusila, yang pantas disejajarkan dengan Pekerja Seks Komersial. Saya lelah menemukan saya masih terpesona dengan tulisan inspiratif Anda dan kemudian menyadari lagi bahwa itu lagi-lagi hanyalah sebuah tulisan yang tidak mencerminkan hati.
"Jikalau seorang berkata: 'aku mengasihi Allah,' dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barang siapa tidak mengasihi saudaranya yg dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah,yg tidak dilihatnya" (Yoh 8:44)
19-Agustus-2010
Chrysanta Aurelia
"Indonesia, tanah air beta"
"Indonesia tanah air beta
pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
tetap di puja-puja bangsa"
***
Tiba-tiba rasanya bangga menyanyikan lagu itu. Saya bangga berada di Indonesia. Dengan segala budayanya dan keanekaragaman suku bahasa. Meski lengkap juga dengan kecarutmarutan pemerintahannya :D yang tentu saja sampai saat ini belum memiliki tanda-tanda adanya kesadaran untuk berbenah diri.
Kadang saya merasa kesal saat orang-orang Indonesia sendiri berkata lebih memilih tinggal di luar negri yang menurut mereka berjuta-juta kali lebih indah dari pada Indonesia. Atau kepada mereka yang kerap menjelek-jelekkan negara ini, meremehkannya, atau kadang malah mencaci negara mereka sendiri. Saya kecewa. Jujur saja sebagai anak remaja yang masih mengenyam bangku sekolah, saya memiliki keinginan sendiri untuk lebih memajukan Indonesia meskipun--tidak mau bersikap munafik--saya masih kerap mengabaikan hal-hal kecil untuk menghormati negara saya sendiri.
Contoh yang paling sederhana saja; apa saya tahu persis sejarah bangsa negara ini? Apa saya dapat dengan fasih menyebutkan nama-nama pahlawan-pahlawan Indonesia? Atau yang paling sederhana, apakah saya bisa menyanyikan lagu Indonesia Raya dari awal hingga akhir (faktanya lagu Indonesia Raya terdiri dari tiga bait).
Lalu bandingkan dengan yang ini; apakah saya tahu dan bisa mengingat dengan jelas tentang bagaimana urutan adegan film yang saya tonton? Apakah saya bisa menyebutkan dengan fasih nama-nama artis baik dalam maupun luar negri berikut dengan kelebihan dan kekurangan mereka? Atau dapatkah saya menyanyikan lagu-lagu kesukaan saya dengan runtut dan tanpa harus bersusah payah mengingatnya?
Saya dan Anda, perlu lebih banyak lagi belajar mencintai tanah yang kita pijak saat ini. Tanah yang hingga 65 tahun yang lalu dibela mati-matian oleh para pahlawan yang bermental baja. Perlu bagi kita untuk kembali menyanyikan lagi lagu Indonesia Raya dengan nafas yang berpacu cepat karena rasa bangga.
Menghormati dari hati dan mengembalikan semangat persatuan yang hingga kini semakin memudar.
Dirgahayu Indonesia ke-65. Jika kita bersama, saya yakin kita akan jauh lebih kokoh dari pada sebelumnya :)
16-Agustus-2010
Chrysanta Aurelia
pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
tetap di puja-puja bangsa"
***
Tiba-tiba rasanya bangga menyanyikan lagu itu. Saya bangga berada di Indonesia. Dengan segala budayanya dan keanekaragaman suku bahasa. Meski lengkap juga dengan kecarutmarutan pemerintahannya :D yang tentu saja sampai saat ini belum memiliki tanda-tanda adanya kesadaran untuk berbenah diri.
Kadang saya merasa kesal saat orang-orang Indonesia sendiri berkata lebih memilih tinggal di luar negri yang menurut mereka berjuta-juta kali lebih indah dari pada Indonesia. Atau kepada mereka yang kerap menjelek-jelekkan negara ini, meremehkannya, atau kadang malah mencaci negara mereka sendiri. Saya kecewa. Jujur saja sebagai anak remaja yang masih mengenyam bangku sekolah, saya memiliki keinginan sendiri untuk lebih memajukan Indonesia meskipun--tidak mau bersikap munafik--saya masih kerap mengabaikan hal-hal kecil untuk menghormati negara saya sendiri.
Contoh yang paling sederhana saja; apa saya tahu persis sejarah bangsa negara ini? Apa saya dapat dengan fasih menyebutkan nama-nama pahlawan-pahlawan Indonesia? Atau yang paling sederhana, apakah saya bisa menyanyikan lagu Indonesia Raya dari awal hingga akhir (faktanya lagu Indonesia Raya terdiri dari tiga bait).
Lalu bandingkan dengan yang ini; apakah saya tahu dan bisa mengingat dengan jelas tentang bagaimana urutan adegan film yang saya tonton? Apakah saya bisa menyebutkan dengan fasih nama-nama artis baik dalam maupun luar negri berikut dengan kelebihan dan kekurangan mereka? Atau dapatkah saya menyanyikan lagu-lagu kesukaan saya dengan runtut dan tanpa harus bersusah payah mengingatnya?
Saya dan Anda, perlu lebih banyak lagi belajar mencintai tanah yang kita pijak saat ini. Tanah yang hingga 65 tahun yang lalu dibela mati-matian oleh para pahlawan yang bermental baja. Perlu bagi kita untuk kembali menyanyikan lagi lagu Indonesia Raya dengan nafas yang berpacu cepat karena rasa bangga.
Menghormati dari hati dan mengembalikan semangat persatuan yang hingga kini semakin memudar.
Dirgahayu Indonesia ke-65. Jika kita bersama, saya yakin kita akan jauh lebih kokoh dari pada sebelumnya :)
16-Agustus-2010
Chrysanta Aurelia
Malioboro dalam Sehari
Saya cinta ketenangan Malioboro di waktu pagi. Masih mengingat bagaimana dulu saya kerap berjalan kaki menyusuri Malioboro sewaktu para pedagan kaki lima masih sibuk menata barang dagangan mereka. Dan saya selalu mengingat suasananya. Bau debu dari kibasan batik-batik yang dijejerkan sekenanya di atas gerobak-gerobak hijau muda. Atau bau bakso yang menguar harum dari gerobak yang berjejer di depan wc umum kotor yang becek. Saya waktu kecil, selalu mengabaikannya. Selalu menutup hidung rapat-rapat tiap kali melihat pedagang mengibaskan baju-baju terusan batik dagangannya sambil menawarkan pada orang-orang yg berlalu lalang.
Lalu saya mulai tumbuh besar.
Mulai bisa berpikir secara lebih rasional dan setingkat lebih kompleks daripada sebelumnya. Tanpa saya sadari, ketika saya sudah mulai berhenti menemani Ibu saya menyusuri Malioboro hingga Pasar Beringharjo, saya rindu. Akan suasana damai sekaligus ramai di antara para pedagang yang berjejer dengan tidak teratur. Akan tatapan curiga saya pada tiap orang yang berlalu lalang dengan gerik yang mencurigakan. Saya rindu.
Kemudian pada siang hari.
Saat matahari bersinar dengan teriknya. Saat orang-orang berdesakan rapat di emperan toko-toko ber-AC yang terlihat kontras dengan gerobak-gerobak sederhana di depannya. Dengan kekisruhan karena teriakan-teriakan lantang kuli-kuli yang berlalu lalang. Dengan dengungan para pedagang yang saling menceritakan kisah mereka pada pedagang yang lain dalam Bahasa Jawa yang sepintas terdengar sekenanya.
Makanan-makanan tradisional, gelang-gelang dari manik kayu kecoklatan, baju-baju batik terusan, tampak menumpuk-numpuk di atas gerobak menunggu seseorang datang dan tertarik membawanya pulang. Kekisruhan itu, terlihat kontras dengan toko-toko sepi di sampingnya. Dengan penerangan yang hingar bingar, angin AC yang kadang menerobos keluar melalui pintu-pintu kaca, dan juga lantunan musik keras semakin mewarnai siang di Malioboro.
Dan saat sore mulai datang.
Saat para pedagang makanan mulai berbondong-bondong menyerbu mulut Pasar Beringharjo. Sambil mengibas-ngibaskan tangannya cepat-cepat diatas 'rantang' penuh sayur-sayur yang terlihat sudah dingin dan sudah lama dimasak. Atau melihat para pembeli menunggu dengan sabar saat pedagang dengan cekatan membungkus pesanan mereka dengan daun pisang. Lalu orang-orang yang berjongkok di pinggiran pintu pasar, mengipas-kipaskan kipas dari anyaman bambu diatas sate yang berjejer di atas arang. Mengingat dengan jelas bagaimana dulu Ibu saya selalu membeli bakmi goreng yang bertumpuk-tumpuk di atas 'rantang' besar menunggu dibeli. Lalu kami bersama-sama menyantapnya dengan nikmat setelah sampai di rumah. Saya rindu.
Dan malam hari adalah waktu Malioboro untuk berbenah menjadi sebuah pusat seni yang mengagumkan. Pertunjukan-pertunjukan jalanan--seperti jathilan--, perkumpulan-perkumpulan motor vespa tua dan juga 'sepedha dhuwur'. Atau kadang jika saya beruntung, bisa menemukan panggung-panggung kecil yang berdiri kokoh di depan patung Serangan 11 Maret. Dibawah pohon beringin besar, kegiatan seni yang sederhana itu berlangsung. Menjadi penutup sunyi kehidupan Malioboro di hari itu. Hingga kemudian ia terlelap dalam diam menyambut besok yang akan kembali melelahkan.
Lalu saya mulai tumbuh besar.
Mulai bisa berpikir secara lebih rasional dan setingkat lebih kompleks daripada sebelumnya. Tanpa saya sadari, ketika saya sudah mulai berhenti menemani Ibu saya menyusuri Malioboro hingga Pasar Beringharjo, saya rindu. Akan suasana damai sekaligus ramai di antara para pedagang yang berjejer dengan tidak teratur. Akan tatapan curiga saya pada tiap orang yang berlalu lalang dengan gerik yang mencurigakan. Saya rindu.
Kemudian pada siang hari.
Saat matahari bersinar dengan teriknya. Saat orang-orang berdesakan rapat di emperan toko-toko ber-AC yang terlihat kontras dengan gerobak-gerobak sederhana di depannya. Dengan kekisruhan karena teriakan-teriakan lantang kuli-kuli yang berlalu lalang. Dengan dengungan para pedagang yang saling menceritakan kisah mereka pada pedagang yang lain dalam Bahasa Jawa yang sepintas terdengar sekenanya.
Makanan-makanan tradisional, gelang-gelang dari manik kayu kecoklatan, baju-baju batik terusan, tampak menumpuk-numpuk di atas gerobak menunggu seseorang datang dan tertarik membawanya pulang. Kekisruhan itu, terlihat kontras dengan toko-toko sepi di sampingnya. Dengan penerangan yang hingar bingar, angin AC yang kadang menerobos keluar melalui pintu-pintu kaca, dan juga lantunan musik keras semakin mewarnai siang di Malioboro.
Dan saat sore mulai datang.
Saat para pedagang makanan mulai berbondong-bondong menyerbu mulut Pasar Beringharjo. Sambil mengibas-ngibaskan tangannya cepat-cepat diatas 'rantang' penuh sayur-sayur yang terlihat sudah dingin dan sudah lama dimasak. Atau melihat para pembeli menunggu dengan sabar saat pedagang dengan cekatan membungkus pesanan mereka dengan daun pisang. Lalu orang-orang yang berjongkok di pinggiran pintu pasar, mengipas-kipaskan kipas dari anyaman bambu diatas sate yang berjejer di atas arang. Mengingat dengan jelas bagaimana dulu Ibu saya selalu membeli bakmi goreng yang bertumpuk-tumpuk di atas 'rantang' besar menunggu dibeli. Lalu kami bersama-sama menyantapnya dengan nikmat setelah sampai di rumah. Saya rindu.
Dan malam hari adalah waktu Malioboro untuk berbenah menjadi sebuah pusat seni yang mengagumkan. Pertunjukan-pertunjukan jalanan--seperti jathilan--, perkumpulan-perkumpulan motor vespa tua dan juga 'sepedha dhuwur'. Atau kadang jika saya beruntung, bisa menemukan panggung-panggung kecil yang berdiri kokoh di depan patung Serangan 11 Maret. Dibawah pohon beringin besar, kegiatan seni yang sederhana itu berlangsung. Menjadi penutup sunyi kehidupan Malioboro di hari itu. Hingga kemudian ia terlelap dalam diam menyambut besok yang akan kembali melelahkan.
"Awas Saya Eksklusif!"
Tentu saja bukan saya yg akan berkata begitu. Saya bukan termasuk orang yg bersikap eksklusif. Bukan juga inklusif,saya rasa. Toh saya tidak bisa dengan mudah bersikap terbuka pada orang yg baru saja saya temui. Saya tidak bisa mengkategorikan diri saya sendiri.
Idenya muncul setelah saya menengok twitter seseorang. Beberapa tweets-nya mengungkapkan rasa bosannya mengikuti acara keagamaan di sekolah dan lebih memilih hang-out bersama teman-teman dekatnya. Jujur, saya mengamati orang itu selama kegiatan keagamaan berlangsung karena kebetulan ia menganut agama yang sama dengannya.
Jadi selama kegiatan berlangsung, ia lebih memilih mengurung diri di kamar, lebih memilih mematung sambil sibuk berkutat dengan handphonenya, atau--menurut beberapa tweetsnya--lebih suka "kabur" dari lokasi.
Saya dan beberapa panitia lain tentu kadang merasa kesal karena acara sudah kami siapkan dengan susah payah. Tapi di kesempatan yang sama, kami juga merasa nrimo pada hal-hal yang ia lakukan karena toh dari awal kami sudah tahu dia akan berbuat seperti itu.
Jujur saja saya merasa kasihan dengan dia. Bukan karena niat untuk mau menyindir--saya mulai bosan dengan kebiasaan saya yg gemar menyindir orang. Selama ini saya menganggap ia 'nyebelin' meski sebenarnya kata itu sangat relatif. Bisa jadi dia menyebalkan untuk saya tp sangat hangat bagi sahabat-sahabatnya. Atau juga sebaliknya. Kembali ke persoalan awal, saya mengamati bahwa hanya ada segelintir orang yg selama kegiatan berlangsung bisa akrab dengannya. Salah satu tweetsnya menyatakan bahwa ia tidak betah dengan suasana di sana. Mungkin lebih karena ia tidak menemukan orang yg bisa nyaman bercakap-cakap dengannya.
Kasihan tentu. Karena toh saya kadang juga merasa begitu. Terasing di antara orang-orang yg saya kenal tapi tidak bisa nyambung dengan obrolan-obrolan mereka. Tapi hal itu tentu bukannya harus menjadi alasan bagi kita untuk mutung dan malah menutup diri. Karena tentu hal itu malah akan membuat orang lain jengah dengan sikap-sikap yang 'sok' meremehkan lengkap dengan tatapan intimidasinya. Tidak perlu harus seperti itu kan? Toh meski mungkin ia menganggap kami semua tidak bisa masuk dalam kriteria orang yg bisa menjadi temannya, kami masih menerima dia di dalam komunitas kami yang hanya beranggotakan segelintir orang.
Saya rasa itu kembali pada masing-masing orang karena mungkin saya juga bisa saja bersikap seperti dia. Jadi toh ini hanya jadi seperti 'senjata makan tuan' atau dalam kasus ini 'posting-an makan tuan'.
Saya rasa saya juga akan merasa terasing di tengah orang-orang yg saya anggap 'di atas' saya. Saya tidak mencoba menasehati karena saya sendiri pun tahu kadang memiliki masalah dalam pergaulan. Saya hanya akan berkata bahwa dimanapun kita akan bertemu dengan orang-orang seperti aku dan dia, jangan kemudian menjauhi dan menggosipkannya. Kita hanya harus mencoba untuk membalik pikiran kita dan membayangkan menjadi seperti dia :)
12-08-2010
Chrysanta Aurelia ♥
Idenya muncul setelah saya menengok twitter seseorang. Beberapa tweets-nya mengungkapkan rasa bosannya mengikuti acara keagamaan di sekolah dan lebih memilih hang-out bersama teman-teman dekatnya. Jujur, saya mengamati orang itu selama kegiatan keagamaan berlangsung karena kebetulan ia menganut agama yang sama dengannya.
Jadi selama kegiatan berlangsung, ia lebih memilih mengurung diri di kamar, lebih memilih mematung sambil sibuk berkutat dengan handphonenya, atau--menurut beberapa tweetsnya--lebih suka "kabur" dari lokasi.
Saya dan beberapa panitia lain tentu kadang merasa kesal karena acara sudah kami siapkan dengan susah payah. Tapi di kesempatan yang sama, kami juga merasa nrimo pada hal-hal yang ia lakukan karena toh dari awal kami sudah tahu dia akan berbuat seperti itu.
Jujur saja saya merasa kasihan dengan dia. Bukan karena niat untuk mau menyindir--saya mulai bosan dengan kebiasaan saya yg gemar menyindir orang. Selama ini saya menganggap ia 'nyebelin' meski sebenarnya kata itu sangat relatif. Bisa jadi dia menyebalkan untuk saya tp sangat hangat bagi sahabat-sahabatnya. Atau juga sebaliknya. Kembali ke persoalan awal, saya mengamati bahwa hanya ada segelintir orang yg selama kegiatan berlangsung bisa akrab dengannya. Salah satu tweetsnya menyatakan bahwa ia tidak betah dengan suasana di sana. Mungkin lebih karena ia tidak menemukan orang yg bisa nyaman bercakap-cakap dengannya.
Kasihan tentu. Karena toh saya kadang juga merasa begitu. Terasing di antara orang-orang yg saya kenal tapi tidak bisa nyambung dengan obrolan-obrolan mereka. Tapi hal itu tentu bukannya harus menjadi alasan bagi kita untuk mutung dan malah menutup diri. Karena tentu hal itu malah akan membuat orang lain jengah dengan sikap-sikap yang 'sok' meremehkan lengkap dengan tatapan intimidasinya. Tidak perlu harus seperti itu kan? Toh meski mungkin ia menganggap kami semua tidak bisa masuk dalam kriteria orang yg bisa menjadi temannya, kami masih menerima dia di dalam komunitas kami yang hanya beranggotakan segelintir orang.
Saya rasa itu kembali pada masing-masing orang karena mungkin saya juga bisa saja bersikap seperti dia. Jadi toh ini hanya jadi seperti 'senjata makan tuan' atau dalam kasus ini 'posting-an makan tuan'.
Saya rasa saya juga akan merasa terasing di tengah orang-orang yg saya anggap 'di atas' saya. Saya tidak mencoba menasehati karena saya sendiri pun tahu kadang memiliki masalah dalam pergaulan. Saya hanya akan berkata bahwa dimanapun kita akan bertemu dengan orang-orang seperti aku dan dia, jangan kemudian menjauhi dan menggosipkannya. Kita hanya harus mencoba untuk membalik pikiran kita dan membayangkan menjadi seperti dia :)
12-08-2010
Chrysanta Aurelia ♥
