Hai!

/ Senin, 10 November 2014 /
Hai.
Karena menulis adalah salah satu caraku untuk tidak menjadi gila dan kamu adalah satu dari sedikit yang bisa menjadi inspirasinya. Aku ingin banyak-banyak menulis tentang kamu.


Selamat malam,
Aku benci sekaligus menyukai kenyataan bahwa aku mengagumimu semakin dalam. Jauh lebih daripada sebelumnya. Lalu setelahnya, aku akan membenci kenyataan bahwa mencintaimu seharusnya adalah kesalahan. Setidaknya begitu kata orang-orang. Meski sebenarnya tahu apa mereka tentang mana yang salah dan mana yang benar? Ketika mereka tidak ada di posisiku, atau posisimu. Kamu harus tahu seberapa sering mereka bilang aku seharusnya berhenti. Juga seberapa sering aku sendiri mencoba untuk berhenti. Tapi usahaku dan usaha mereka rasanya sia-sia, toh pada akhirnya aku jatuh cinta lagi, entah untuk keberapa kali pada sosokmu.

Aku sering berpikir kadang Takdir itu lucu. Dari sekian juta laki-laki dan milyaran kemungkinan waktu, mengapa aku bisa mencintai kamu di waktu yang seperti ini. Mengapa kita tidak bisa menjadi pasangan yang normal-normal saja, yang bisa pergi setiap Malam Minggu,  kemana saja semaunya. Tanpa ada jarak, serta perasaan bersalah yang menjauhkan kita. Lalu kemudian biasanya aku akan mulai berpikir, apa mungkin semuanya pertanda bahwa kita memang seharusnya tidak saling jatuh cinta?

Tapi seperti aku pernah bilang sebelumnya, mencintai kamu adalah candu. Kenyataannya setiap pagi aku mencintai kamu lebih daripada pagi sebelumnya hingga aku sendiri tidak tahu lagi bagaimana cara untuk menyampaikannya—karena kata-kata sayangku menjadi terdengar semakin klise dan mulai kehilangan maknanya. Aku menyukai rasa sesak bahagia setiap memikirkan kamu. Sama halnya seperti aku menyukai setiap mendapati kamu akan datang ke kotaku sebentar lagi. Pada saat-saat itu, aku berhenti peduli apa yang akan orang-orang katakan, atau hati siapa yang mungkin telah aku patahkan. Aku ingin mencintai kamu tanpa peduli semua itu. Sekali-kali saja, mencintaimu dengan egois dan naif.

Maka akhirnya, apa boleh aku meminta kamu menggenggam lebih erat tanganku? Meminta kamu untuk tidak berhenti membuatku percaya bahwa kamu juga mencintaiku sebesar itu. Meminta kamu untuk tidak pernah bosan meyakinkanku bahwa semuanya ini cuma ujian, bukan upaya semesta untuk memisahkan kita berdua.  Hingga kemudian aku bisa berani memimpikan masa depan kita.
***

Hehe. Sorry if I’m being too cheesy. It’s just the weather, maybe? And ah, probably because I miss you just way too much.
Cepet ke Jogja yaaaa :)

Kehabisan Tawa

/ Selasa, 23 September 2014 /
Sekarang bahagiaku habis. Kuhabiskan sendiri seharian ini tertawa kencang-kencang pada hal-hal yang tidak terlalu lucu.

Apa saja asal bukan kebodohanku.

Surat.

/ Kamis, 11 September 2014 /
Jangan tertawa ya, aku mencoba menulis apa yang bisa semirip mungkin dikata surat cinta.

Hai, 
terimakasih untuk hari ini, dan hari-hari lain sebelum ini. Untuk membuatku tertawa, untuk mengajarku lebih dewasa,  untuk membuat bahagiaku menjadi lebih sederhana, serta untuk membuat aku merasa hal-hal yang tidak bisa aku jelaskan dengan kata.

Terimakasih untuk mengajarkanku berani bermimpi tinggi. Karena yang aku tahu benar aku mencintai caramu mencintai hidupmu. Di luar apakah kamu juga akan mencintaiku sebesar itu. Di luar apakah aku akan bisa  mencintaimu sebijak itu. Untuk saat ini, aku masih ingin tersesat di setiap ceritamu, masih ingin tetap bisa leluasa mengagumi seorang kamu.

Aku tidak perlu mengartikan ini apa, ketika satu-satunya yang aku tahu membaca pesanmu membuatku bahagia.
Aku tidak perlu terburu-buru menggolongkan ini cinta jenis apa, ketika  satu-satunya yang aku tahu aku tetap ingin kamu mengucapkanku selamat pagi, setiap hari.

Jangan pergi terlalu jauh, ataupun membuatku berpikir kamu mulai tak acuh. Karena bisa mengenalmu, menjadi sangat sedikit bagian dalam hidupmu, ternyata menjadi salah satu dari alasan bahagiaku. Demikian seperti membaca berulang-ulang pesanmu, ternyata telah  menjadi semacam candu. Ya, mungkin aku sudah menyukaimu sejauh itu.

Maka tetap jadilah seperti ini, yang memberiku semangat setiap pagi, yang bersama-sama membagi mimpi, yang menyukaiku seperti halnya aku menyukaimu.

Karena mungkin ternyata suatu hari, kita akan terbangun dan tersadar kita bukan ditakdirkan untuk bersama. Lalu saat waktu itu tiba, aku akan tetap bisa mengingatmu sebagai orang yang pernah menjadi alasanku untuk bahagia.

Atau mungkin suatu pagi, kita akhirnya bisa mengartikan ini apa, dan memutuskan untuk jatuh cinta bersama. 

Hidup ini, punya jutaan kemungkinan, kan?

***

Selamat pagi juga. Baru jam segini, tidur lagi ya. Gbu :)

3 per 5

/ Senin, 01 September 2014 /
Is it the feeling I should've felt for these last 5 years?

Really, his hand looks much strong to hold all of my happiness and not to let them go. I have given him 3 per 5 of mine.

Chaos

/ Sabtu, 16 Agustus 2014 /
Halo. Akhir-akhir ini aku merasa bodoh. Merasa bukan seperti aku yang biasanya, yang bisa membedakan mana yang harus kukatakan dan mana yang harus kupendam. Tidak pula bisa membatasi mana yang harus dijadikan ekspresi dan mana yang harus disimpan sendiri.

Sudah berapa minggu ya? Sepertinya jariku masih mampu menghitungnya, tapi duniaku rasa-rasanya tidak lagi memijaki waktu. Minggu yang menyerupai tahun, dan tahun yang menyerupai hari. Sekarang aku tahu mengapa banyak yang berkata waktu sesungguhnya tak berbentuk.

Mungkin butuh sesuatu yang bisa menyadarkanku. Yang bisa menarikku kembali ke bumi, menyalakan kembali tombol gravitasi. Aku terlalu lama mengawang-awang, diterbangkan oleh (mungkin) harapan. Dan melebihi yang kukira sebelumnya, terbangku terlalu tinggi hingga aku sadar ketinggian itu menakutkan. Bukan, bukan ketinggian yang menakutkan, kemungkinan terjatuh-lah yang lebih mengerikan.

Ingat beberapa bulan lalu, aku berjanji berhenti menggenggamkan kebahagianku di tangan seseorang. Dan sekarang dengan amat kesal, aku harus bilang; tangannya tampak kuat dan cukup untuk menggenggam seluruh kebahagianku. Kuberikan padanya setengah, setengahnya lagi kusimpan, jika sewaktu-waktu aku butuh tertawa, menertawai kebodohanku yang mempercayainya.

Dan bila itu belum cukup membuat diriku sendiri percaya, aku punya lagi bukti bahwa duniaku kini berputar tak lagi di porosnya.

Aku mulai meragukan teoriku sendiri; bahwa sesuatu yang dibiarkan terpendam bentuknya menjadi lebih rupawan.
Puluhan orang membantahnya, menyimpulkan aku terlaku naif, aku tahu. Yang aku tidak tahu, satu bantahan di satu pagi membuatku mulai meragukannya.

Lalu untuk pertama kalinya dalam hidupku yang biasa-biasa saja, aku tahu, menguntai kata-kata dari rasa tak sesulit yang kukira sebelumnya. Dan mungkin bila ternyata kunjungannya dalam duniaku hanyalah lawatan singkat, terimakasih sudah memutar arah orbitku.

Untuk sekali ini

/ Rabu, 06 Agustus 2014 /
Untuk sekali ini ; aku merasa kecil. Merasa tak lagi punya kuasa terhadap rasa.

Lalu, bagaimana?
 
Copyright © 2010 Jump and fly., All rights reserved
Design by DZignine. Powered by Blogger